Aradea rofixs home

17 Okt 2020

Seni penjing

Permasalahan klasik antara seni penjing dan seni bonsai ini adalah;. Bahwa keduanya bisa saja disebut sama,

namun pada konteks dan situasi yang beda keduanya bisa juga dianggap beda.

Karena memang ada hal-hal tertentu yang membedakan keduanya.

Hal ini telah lama menjadi isu kontroversial karena ada pendapat berbeda tentang seni penjing dan seni bonsai oleh masing-masing sumber yang paling kompeten di bidang ini, baik dari Cina ataupun Jepang.

Kerancuan mengenai hal ini pun sesungguhnya dapat dilihat dalam berbagai naskah-naskah buku, artikel, dan dalam berbagai diskusi yang lagi thread di forum online.

Dalam berbagai kajian banyak yang mendukung pernyataan tersebut;  bahwa dua seni ini bisa dianggap sama - (yang membedakan hanyalah masalah terjemahan bahasa saja) - akantetapi pada waktu dan konteks lain hal ini juga masih sering disebut sebagai dua bentuk seni yang benar-benar berbeda.

Bagai mana ini bisa seperti itu? Lalu bagaimanakah sebenarnya mengenai hal ini?

Mari kita mulai,  kita mencoba menyelami permasalahan ini dari pemahaman paling dasar, yakni dari sudut kata-kata atau bahasa, "bonsai adalah bahasa Jepang" yang berarti "tanaman dalam pot, sedang " penjing adalah bahasa "Mandarin" Pen = itu pot dan, jing = pemandangan, panorama, atau view atau landscape.

Penjing bisa di artikan "pemandangan dalam pot". Sedangkan Bonsai artinya adalah "tanaman yang ditanam didalam pot,"  — kata Bonsai jika diterjemahkan ke dalam bahasa Cina menjadi penjai atau penzai.

Yang artinya, jika menurut bonsai, maka Setiap tanaman yang ada di dalam pot bisa disebut penzai atau Bonsai. Di sinilah letak perbedaannya bahwa penjing tidak memiliki arti kata yang sama dengan bonsai seperti yang kita ketahui selama ini.

Karena sesungguhnya apa yang kita sebut Bonsai selama ini, adalah  yang didalam bahasa Mandarin disebut dengan "Shujuang penjing".

Jika kemudian kata shujuang hilang, telah disebutkan oleh beberapa artikel serta diskusi para pakar, "jika kata shujuang biasanya dibiarkan pergi, meninggalkan kata induknya dan kemudian lazim dilafalkan menjadi penjing saja.

Memang, dalam konteks umum, bonsai bisa saja sama maksudnya dengan penjing, karena kita semua dalam keadaan "tahu" tentang apa yang sedang di bicarakan - makanya bisa menghilangkan kata shujuang.

Namun tentu saja dalam konteks lain, terutama dalam kajian akademis penjing menjadi berbeda dari bonsai. Karena kata Penjing memiliki konteks yang lebih luas dalam konotasi yang sesungguhnya tentang seni.

Sebab Penjing punya nuansa sendiri jika ditinjau secara detil dan lebih spesifik.

Shujuang penjing atau yang kita biasa sebut Bonsai adalah hanya salah satu dari sekian banyak gaya dalam seni penjing yang tentu saja ada gaya lainnya lagi selain itu.

Sebut saja, "Shanshui penjing atau (rock penjing)", "bigua penjing (dinding-menggantung penjing )", "shuihan penjing (perpaduan air atau pemandangan danau dan penjing tanah)", "Shushe penjing (pohon dan bebatuan penjing)" - dan seterusnya.

Filosofi dasar penjing adalah

"Yuan yu je zan , Gao yu je zan , " yang berarti

"Terinspirasi oleh alam, dan mengagumi lebih mendalam tentang alam."

Dengan media penjing sang seniman bisa leluasa dalam mencoba menciptakan keindahan alam dalam pot tanpa menghilangkan ketidak sempurnaan yang ada pada alam itu sendiri.

Maka nilai estetisnya pun akan lebih luas, karena ranah kebebasan lebih komleks dalam melihat kreasi alami yang tertuang dalam kaidah seni, maka dengan penjing akan lebih dapat leluasa dalam menangkap dan menyampaikan pesan.

Jiwa penjing lebih terungkap dalam banyak hal dan presentasi, karena ada pesan tematik, pesan simbolisme dan puisi.

Itulah yang disebut Presentasi alami, tanpa terlalu banyak estetika yang tentunya tergantung pada detail anatomi pohon.

Seniman penjing akan lebih terlibat lewat ekspresi subyektif, dengan referensi emosional individu yang kuat.

Kesempurnaan membangun tiap anatomi bukan sebuah persyaratan utama dalam seni penjing karena berpedomannya adalah, "bahwa alam itu tidak sempurna."

Kita ketahui jika Keterampilan dan rekayasa serta teknik sangat penting untuk seni bonsai namun tidak begitu penting dalam seni penjing . 
Penekanan justru lebih pada, penerapan keterampilan yang relevan, yakni bagaimana dengan pohon untuk supaya berhasil menyampaikan pesan tematik buat pemirsa.

Para pakar dalam seni Penjing menyebut, inti dari penjing adalah

"Hua jong Anda se, 
se jong Anda yu , 
Jin jong Anda dong, 
dong jong Anda diao,"

yang berarti

"Di dalam gambar, ada puisi, 
dalam puisi, ada makna,
dalam keheningan, ada gerakan, dalam gerakan, ada ritme." 
aspek tujuan penjing adalah mengikuti fenomena ke-tidak sempurnaan alam.
Aspek subjek didasarkan pada keseimbangan penyajian saat ditangkap dari alam dengan pesan implisit pada tema. 

Lebih detilnya saksikan rangkuman artikel ini dalam video agar tidak membosankan : 





wa: 089696019275

email bisnis: rofixs@outlook.com

Amroxs

27 Nov 2019

Udaipur lake city

Amroxs




Pernahkah anda melakukan perjalanan ke Venesia. Jika belum kami ingin menawarkan satu perjalanan yang hampir sama. Anda akan merasakan berada dalam suasana yang sama dan begitu indah, namun berada di kawasan asia. Silahkan rubah jadwal wisata anda, dan mungkin harus mendarat di Udaipur, yang terkenal disebut 'Venice of the East' dan ' The City of Lakes '. Udaipur, sebuah kota di Rajasthan adalah lokasi yang menakjubkan dan memiliki latar belakang budaya yang kaya dan sejarah yang hebat. Istana-istana mencerminkan kemegahan arsitektur yang berlaku selama periode Rajputs dan pemandangan indah adalah deskriptif tentang bagaimana alam bisa bermurah hati di mana ia memilih untuk menjadi. Berikut adalah 10 tempat terbaik untuk dikunjungi di Udaipur , yang tidak boleh Anda lewatkan.

Informasi Pengunjung
Terkenal karena: Sejarah, Arsitektur, Fotografi.

Tiket: 30 INR untuk dewasa dan 15 INR untuk anak-anak.

Waktu Pembukaan: Buka sepanjang hari (9:30 pagi hingga 5:30 sore).

Durasi: 1-2 jam.

Tentang Istana Kota

City Palace dibangun pada tahun 1559 oleh Maharana Udai Mirza Singh.Istana ini terletak di tepi Danau Pichola. Istana ini merupakan perpaduan gaya arsitektur Eropa, Abad Pertengahan dan Cina. City Palace memiliki 11 istana megah dan semuanya dibangun pada berbagai periode dan oleh berbagai penguasa.Ukuran istana sangat mengagumkan dengan halaman, teras, paviliun, taman gantung dan banyak lagi.Segala sesuatu tentang istana luar biasa baik arsitekturnya, barang-barang antik di dalamnya dan lukisan-lukisan eksklusif yang tergantung di dinding.

Yang bisa dilakukan di City Palace

Ikuti tur City Palace.

Kunjungi Museum City Palace (biaya terpisah).

Nikmati pemandangan indah Danau Pichola di dekatnya.


Informasi Pengunjung
Terkenal karena: Alam, Fotografi.

Tiket: Naik perahu dikenai biaya 340 INR untuk dewasa dan 170 INR untuk anak-anak. Naik perahu saat matahari terbenam akan menelan biaya sekitar 220 INR lebih.

Waktu Pembukaan: Buka sepanjang hari sampai matahari terbenam.

Durasi: 1-2 jam.

Tentang Danau Pichola

Manusia lain yang dibuat heran di kota yang didominasi oleh alam, Danau Pichola diciptakan pada 1362 Masehi. Rana Udai Singh II memperluas danau di abad ke-16.Danau yang indah dikelilingi oleh bukit-bukit besar, istana megah, kuil dan ghats mandi. Pulau-pulau di Danau Pichola menawarkan berbagai tempat wisata dan karenanya dengan berlayar di Danau Pichola, Anda pasti memiliki ikan paus. Pemandangan matahari terbenam menakjubkan.Kapal pesiar menawarkan pemandangan kota yang indah, terutama di malam hari saat Anda menyaksikan matahari terbenam di mata Anda, Anda akan menemukan kota itu menyala. Istana terlihat memukau dengan lampu menyala dan merupakan pemandangan indah dari danau.

Hal yang Dapat Dilakukan di Danau Pichola

Naik perahu saat matahari terbenam.

Berjalan di sepanjang jalur yang mengelilingi danau.

Kunjungi tempat-tempat wisata seperti Lake Palace dan Lake Garden Palace.


Informasi Pengunjung
Terkenal karena: Sejarah, Pernikahan, Fotografi.

Tiket: Biaya tur museum 75 INR, biaya tur Crystal Gallery 500 INR dan biaya perjalanan perahu 450 INR.

Waktu Pembukaan: Buka sepanjang hari.

Durasi: 1-2 jam.

Tentang Istana Danau

Simbol pariwisata Udaipur dan tujuan pernikahan yang terkenal, Lake Palace atau Jag Niwas adalah keajaiban arsitektur. Istana ini terletak di pulau Jag Niwas di Danau Pichola dan dibangun pada tahun 1746 oleh Maharana Jagat Singh II. Itu kemudian diubah menjadi hotel mewah pada 1960-an dan sekarang merupakan bagian dari resor mewah Taj. Lokasi yang menakjubkan ini juga telah ditampilkan dalam banyak film Hollywood dan Bollywood.

Objek Wisata Dekat Lake Palace

Nikmati makanan mewah di banyak restoran.

Naik Perahu di Danau Pichola.

Tur situs warisan bersejarah ini.

Kunjungi kuil Jagdish terdekat di dekatnya.

Nikmati matahari terbenam di Danau Fatehsagar di dekatnya.

Informasi Pengunjung

Terkenal karena: Sejarah, Arsitektur, Fotografi.

Tiket: Perjalanan 30 menit akan menelan biaya 225 INR (dewasa) dan 115 INR (anak). Perjalanan satu jam akan menelan biaya 325 INR (Dewasa) dan 115 INR (anak).

Waktu Pembukaan: Buka sepanjang hari.

Durasi: 1-2 jam.

Tentang Istana Taman Danau

Jagmandir atau Istana Taman Danau dikatakan telah menjadi inspirasi bagi Taj Mahal ketika Shah Jahan berlindung di sini di masa mudanya. Istana ini memiliki sejarah panjang dan dianggap sebagai salah satu simbol persahabatan antara Mughal dan Rajputs. Serangkaian bangunan mengesankan membuat istana ini terasa megah dan akan menyenangkan setiap pengunjung.

Hal yang Dapat Dilakukan di Lake Garden Palace

Kunjungi taman bunga.

Naik Perahu di Danau Pichola.

Nikmati masakan Rajasthani di restoran Darikhana.

Kunjungi museum di kompleks.

Kunjungi City Palace di dekatnya.

Informasi Pengunjung

Terkenal karena: Sejarah, Mobil, Fotografi.

Tiket: 250 INR untuk dewasa dan 150 INR untuk anak-anak.

Waktu Pembukaan: Buka sepanjang hari (9 pagi hingga 9 malam).

Durasi: 45 mnt.

Tentang Museum Mobil Vintage

Surga bagi semua penggemar motor, The Royal Vintage Car Museumwajib dikunjungi bagi setiap pengunjung. Ini diresmikan pada Februari 2000 dan telah menjadi tujuan wisata yang sangat populer sejak saat itu. Museum ini menampung banyak mobil vintage terkenal seperti Phantom Rolls-Royce 1934 yang digunakan dalam film Bond Octopussy dan banyak model Rolls Royce yang langka. Lingkungan yang tenang dan damai di sini adalah bonus tambahan.

Objek Wisata Dekat Museum Mobil Antik Kerajaan

Nikmati thali Rajasthani tradisional di Garden Hotel.

Tur mobil antik.

Kunjungi Gulab Bagh di dekatnya.

Informasi Pengunjung

Terkenal karena: Sejarah, Arsitektur, Fotografi.

Tiket: 60 INR ditambah 100 INR biaya tambahan untuk kamera.

Waktu Pembukaan: Buka sepanjang hari (10 pagi hingga 6:30 malam).

Durasi: 1-2 jam.

Tentang Bagore Ki Haveli

Bagore Ki Haveli terletak di dekat Danau Pichola. Konstruksi abad ke-18 dibangun oleh Amir Chand Badwa, Kepala Menteri di Royal Court of Mewar. Haveli menjadi kediaman Maharana Shakti Singh dari Bagore pada tahun 1878 dan karenanya dinamai Bagore Ki Haveli. Ini dikonversi menjadi museum mempertahankan sentuhan kerajaan ke gedung. Museum ini menyajikan budaya Mewar. Koleksi antik termasuk barang-barang yang digunakan oleh Rajputs seperti kotak perhiasan, kipas tangan, kapal tembaga dan sebagainya. Bangunan besar ini memiliki lebih dari 100 kamar dan terlihat indah dengan gaya arsitekturnya yang unik. Ketika Anda berada di sana, pastikan Anda hadir untuk pertunjukan yang diadakan di sini di malam hari.

Aktivitas di Bagore Ki Haveli

Kunjungi museum di haveli.

Saksikan pertunjukan musik dan tarian rakyat.

Tonton pertunjukan teater di tanah teater.

Nikmati pertunjukan boneka mendengarkan dongeng.

Lihat matahari terbenam yang indah.

Belanja kerajinan tangan, suvenir, dan karya seni lainnya.


Informasi Pengunjung

Terkenal karena: Sejarah, Arsitektur, Fotografi, Kebun.

Tiket: 10 INR untuk orang India dan 50 INR untuk orang asing.

Waktu Pembukaan: Buka sepanjang hari (8 pagi hingga 8 malam).

Durasi: 45 mnt.

Tentang Saheliyon Ki Bari

Dibangun oleh Sangram Singh II sebagai hadiah untuk ratu dan pembantunya, Saheliyon Ki Bari(Taman Sahabat) adalah pemandangan yang indah untuk dilihat. Raja merancang taman itu sendiri dan berusaha menjadikannya tempat yang rileks di mana sang ratu dapat bersantai bersama 48 pelayannya. Taman masih melayani tujuannya dalam banyak hal dan orang-orang datang ke tempat ini untuk melarikan diri dari kekacauan kota.

Aktivitas di Saheliyon Ki Bari

Berjalan melewati taman.

Kunjungi museum.

Nikmati makan di restoran multi masakan, 1559 AD.

Informasi Pengunjung

Terkenal karena: Ziarah, Sejarah, Arsitektur, Fotografi.

Tiket: Tidak ada biaya masuk.

Waktu Pembukaan: Buka sepanjang hari (16:15 hingga 13:00 & 17:15 hingga 20:00).

Durasi: 45 mnt.

Tentang Kuil Jagdish

Dibangun pada tahun 1651, Kuil Jagdish adalah kuil terbesar Udaipur.Diperkirakan 1,5 juta INR dihabiskan untuk keajaiban arsitektur Indo-Aryan yang menakjubkan ini. Ini didedikasikan untuk Dewa Wisnu dan juga rumah-rumah suci lainnya yang didedikasikan untuk Dewa Siwa, Ganesh, Dewa Matahari, dan Dewi Shakti. Kuil ini harus dikunjungi tidak hanya untuk menawarkan pengabdian Anda tetapi juga untuk menyaksikan ukiran dinding yang indah, patung gajah dan arsitektur yang menakjubkan.

Objek Wisata Dekat Kuil Jagdish

Belanja kerajinan tangan di kompleks perbelanjaan.
Informasi Pengunjung
Terkenal karena: Belanja, Fotografi, Kehidupan desa.

Tiket: 30 INR untuk orang India dan 50 INR untuk orang asing.

Waktu Pembukaan: Buka sepanjang hari (11 pagi hingga 7 malam).

Durasi: 2-3 jam.

Tentang Shilpgram

Didirikan di sekitar 70 hektar tanah dan terletak di pangkuan rentang Aravali, Shilpgram adalah kompleks seni dan kerajinan pedesaan yang didirikan untuk mempromosikan seni dan kerajinan tradisional Rajasthan.Ini menyediakan lapangan kerja bagi banyak pengrajin pedesaan dan merupakan pusat dari banyak festival budaya yang diselenggarakan di sini secara teratur. Daya tarik lain di sini adalah Amphitheatre udara terbuka yang menjadi panggung utama bagi banyak festival seni. Kunjungi Shilpgram untuk mengalami kesederhanaan kehidupan desa, menghadiri pameran seni atau tari, dan berbelanja sepuas hati.

Hal yang Dapat Dilakukan di Shilpgram

Makan di restoran Shilpi.

Berbelanja di Kompleks Seni dan Kerajinan Pedesaan.

Kunjungi dua museum di dekat kompleks perbelanjaan.

Nikmati pertunjukan teater, seni, atau tari di Amphitheatre.

Kunjungi Suaka Margasatwa Sajjangarh di dekatnya.
Informasi Pengunjung

Terkenal untuk: Kebun, Sejarah, Arsitektur, Fotografi.

Tiket: 20 INR untuk dewasa dan 10 INR untuk anak-anak.

Waktu Pembukaan: Buka sepanjang hari (9 pagi hingga 6 sore).

Durasi: 0,5-1 jam.

Tentang Moti Magri

Penghargaan tepat untuk mengenang Maharana Pratap dan kuda kesayangannya Chetak, Moti Magrimemiliki patung perunggu Maharana yang memukau di kudanya Chetak. Terletak di puncak bukit yang menghadap ke danau Fateh Sagar dan juga menawarkan beberapa titik pengamatan yang sangat indah untuk tidak hanya danau terdekat tetapi juga dari Udaipur. Kunjungi Moti Magri untuk mengetahui warisan menakjubkan dari berbagai peristiwa yang terkait dengan Maharana Pratap dan dapatkan beberapa pemandangan yang sangat menakjubkan.

Selanjutnya ada hal yang dapat dilakukan mengunjungi sekitar Moti Magri
Kunjungi museum Moti Mahal.

Nikmati pertunjukan Cahaya dan Suara di malam hari.

Kunjungi Taman Batu Jepang.

Kunjungi Danau Fateh Sagar di dekatnya dan Danau Swaroop Sagar.

Tempat-tempat menarik lainnya di dekat Udaipur mencakup Sajjan Garh (Istana Monsoon) , Kuil Kesariyaji , Sukhadia Circle , Kuil Neemach Mata, dan Kuil Karni Mata.

Objek Wisata Dekat Udaipur

Perjalanan Anda ke Udaipur tidak akan lengkap tanpa kunjungan singkat ke tempat-tempat berikut.Jika Anda memiliki waktu luang, lakukan perjalanan kurang dari sehari ke beberapa lokasi di bawah:

1. Nathdwara
Jarak dari Udaipur: 49 menit (45,5 km).

Nathdwara adalah situs ziarah hindu yang penting bagi umat Krishna Krishna dan umumnya disebut Shrinathji, setelah dewa ketua.Sebuah legenda terkenal dikaitkan dengan kuil Shrinathji di sini dan karena itu kerumunan penyembah datang ke sini setiap hari untuk memberikan penghormatan kepada tuan. Selain itu, dari menjadi situs ziarah, Nathdwara terkenal dengan gaya lukisan khusus yang didedikasikan untuk Shrinathji, masakan yang menggiurkan, dll. Keindahan budaya kota telah membuatnya disebut 'The Apollo of Mewar'.

2. Haldighat

Jarak dari Udaipur: 1 jam (53,2 km).

Kisah-kisah kegagahan Maharana Pratap masih diceritakan di bukit-bukit Haldighati , yang menyaksikan pertempuran bersejarah besar antara pasukan Maharana Pratap dan pasukan Kaisar Mughal Akbar yang dipimpin oleh Man Singh I. Museum Haldighati menampilkan acara ini dan juga kehidupan Maharana Pratap.

3. Ranakpur

Jarak dari Udaipur: 1 jam 52 mnt ( 94 km ).

Ranakpur terutama dikenal karena kuil Jain yang dibangun pada abad ke-15 setelah visi ilahi. Ini memberi penghormatan kepada Adinath, Tirthankar pertama dari setengah siklus ini menurut kosmologi Jain.Kuil ini terkenal dengan ukiran marmernya yang indah dan arsitekturnya yang menakjubkan dan bahkan disebut sebagai salah satu kuil Jain yang paling indah di India.


Jarak dari Udaipur: 2 jam (86,0 km).

Benteng besar ini memiliki perbedaan memiliki tembok terbesar kedua di dunia setelah Tembok Besar Tiongkok. Perjalanan ke Rajasthan tidak akan lengkap tanpa menyaksikan arsitektur Kumbhalgarh Fort yangmenakjubkan dan sejarah yang menakjubkan. Pemandangan yang menakjubkan dari benteng adalah bonus tambahan bersama dengan pertunjukan cahaya dan suara di malam hari.



Dapatkan istirahat dari musim panas yang terik di Mount Abu , satu-satunya stasiun bukit di Rajasthan.Gunung Abu juga merupakan tempat ke Lima Kuil Unik Dilwara, yang terkenal di seluruh dunia karena keindahan arsitekturnya. Keindahan yang indah juga sesuatu yang dinanti-nantikan jika pengunjung mencari liburan santai dengan beberapa sudut pandang yang menakjubkan.

Tidak ada deskripsi yang cukup tentang tempat-tempat wisata di Udaipur dan keindahannya. Ada lebih banyak istana dan tempat untuk dilihat yang akan memikat Anda. Kuil dan suaka margasatwa yang terkenal meyakinkan Anda akan waktu berkualitas yang dihabiskan. Selamat bersenang-senang di kota di India yang lebih mirip kota Eropa. Lihat juga tempat-tempat lain untuk dikunjungi di Rajasthan untuk mempelajari lebih lanjut.


18 Okt 2019

Anskrip Raksasa (Giant)

Amroxs



anskripsi
0:00
Giants are found in the myths and
0:02
legends of many different cultures their
0:04
appearance rarely differs much from an
0:06
ordinary human for example these Cyclops
0:09
in the Odyssey written by Homer besides
0:12
being a giant was generally human
0:14
looking except for that one big eye in
0:16
the center of his forehead the Bible
0:18
mentions in passing a divine origin for
0:21
ancient Giants and in Scandinavian
0:24
legends Giants actually confront the
0:26
gods quote at that time there were
0:29
giants on the earth since the sons of
0:31
God began to enter the daughters of men
0:34
and began to give birth to them they are
0:36
strong anciently glorious people end
0:40
quote
0:42
why did people on different continents
0:45
and in such disparate civilizations have
0:48
such similar stories about Giants is it
0:51
possible that these are remnants of
0:53
memories of certain ancient
0:55
civilizations a medieval Danish
0:57
historian wonderfully named Saxo
1:00
gramatica s' assumed that the Giants
1:02
really existed else how to explain the
1:05
giant sized buildings and structures of
1:07
antiquity many written sources of those
1:10
years do speak of such things for
1:12
example in the Old English poem Seafarer
1:15
a tale is told of enormous stone walls
1:18
supposedly built by giants
1:20
there is also mention of giant beings in
1:22
a number of historical documents
1:24
Herodotus writes of the Spartans
1:26
acquiring the bones of the warrior
1:28
arrestees to help with a military
1:31
campaign the skeleton is noted to have
1:33
had a height of seven cubits that's 11
1:36
and a half feet or three and a half
1:38
meters in modern terms the ancient Greek
1:41
scholar Pausanias described how a
1:43
skeleton of a man of about 18 feet or
1:46
five and a half metres tall was found on
1:49
the bottom of a river Josephus Flavius a
1:52
Roman
1:53
historian transcribed the testimonies of
1:55
eyewitnesses who saw live giants
1:57
themselves these observers reported that
2:00
the Giants faces were different from
2:02
ordinary human faces and that the
2:04
towering creatures possessed
2:06
thundering voices in the era of early
2:09
Christianity priests believe that adam's
2:12
height was 13 feet about four meters and
2:15
that Eve was just a bit shorter at about
2:17
10 feet tall or 3 meters records of
2:20
these writings are available in the
2:22
archives of the Vatican a number of 13
2:25
foot tall skeletons that's 4 meters for
2:28
you
2:29
metric aficionados who are excavated in
2:32
the caucasus mountains during the 20th
2:34
century
2:35
the age of these giant skeletons dates
2:37
from somewhere between tens and even
2:39
hundreds of thousands of years ago the
2:42
presence of such a large number of
2:44
skeletal remains allowed scientists to
2:46
assume that the Giants moved here in
2:48
search of salvation after some global
2:51
catastrophe here they found their final
2:53
shelter and resting place in one very
2:56
old book entitled history and antiquity
2:59
now stored at the oxford university
3:02
library there is an account of the
3:04
discovery in the Middle Ages of a giant
3:06
skeleton in Cumberland quote the giant
3:10
is buried in the ground at a depth of
3:12
four yards and is in full military garb
3:15
his sword and battle axe are resting
3:18
next to them the length of the skeleton
3:20
is four and a half yards and the teeth
3:22
of the big man are measured at six and a
3:25
half inches long and too broad
3:27
end quote adding to the evidence
3:30
verifying the existence of giants are
3:32
numerous gigantic fossilized footprints
3:35
for example an imprint of a human foot
3:38
80 centimeters or 2 and a half feet in
3:40
length has been unearthed in Tanzania
3:43
similar footprints of a slightly smaller
3:45
size about 50 centimeters or one and
3:47
half feet were found in the Nevada
3:49
desert left approximately 250 million
3:53
years ago a series of handprints was
3:56
found next to traces of dinosaurs near a
3:58
village in Turkmenistan the height of
4:01
the giant that left them is estimated at
4:03
about five meters almost 16 and a half
4:06
feet and lived 150 million years ago
4:09
a human tooth five times larger than an
4:12
ordinary man's tooth was found in Hong
4:14
Kong in 1935 a 60 centimeter or two foot
4:19
high human skull with two rows of teeth
4:22
was found in Alaska in 1950 and a 50
4:26
foot long petrified human skeleton
4:29
that's 15 meters folks was found in
4:32
Mongolia in 1999 these sheer plethora of
4:36
evidence allows us to state
4:38
unequivocally that Giants did indeed
4:40
once exist but whether they were a
4:43
single people who settled all over the
4:45
earth or belonged to different races
4:48
this is a question which scientists have
4:50
yet to unambiguously answer but if
4:53
Giants really existed and not only in
4:56
myth and legend then it stands to reason
4:58
that other traces of their lives should
5:00
also exist for example architectural
5:03
structures and other such objects in the
5:06
opinion of a number of scientists the
5:08
numerous megalithic objects that have
5:11
been discovered all over the earth serve
5:13
as proof of the prior existence of
5:16
giants even in our time with modern
5:19
technology it is extremely difficult to
5:21
build such monumental objects and tens
5:24
or even hundreds of thousands of years
5:26
ago without some kind of mechanical
5:28
lifting mechanisms it seems that it
5:31
would have been virtually impossible and
5:33
yet they exist this is the famous
5:37
Baalbek terrace located in Lebanon near
5:40
Beirut
5:42
three huge stone slabs each weighing
5:44
about 800 tons are embedded in its base
5:48
the plates are identical and fit
5:51
together so seamlessly that one cannot
5:53
even insert the blade of a knife between
5:56
them researchers calculated that to
5:58
install just one such stone block 21
6:01
metres wide and 54 meters long would
6:04
require the simultaneous effort of at
6:07
least 35,000 people who how and why did
6:12
they do it
6:13
handwritten Arabic treatises say that
6:15
the structure was built as a temple of
6:17
Jupiter and that the giant beings built
6:20
it on the orders of King Nimrod just
6:22
after the flood the ancient city of
6:25
Teotihuacan the city of gods is located
6:29
31 miles from Mexico City and is an
6:32
entire complex of huge stone blocks
6:34
according to the most common historical
6:37
version of events the city was built by
6:39
giants to turn people into gods it's
6:42
layout resembles a model of the solar
6:44
system from the central temple which
6:46
embodies the Sun at appropriate
6:49
distances are the planet temples even
6:51
including Pluto which modern astronomers
6:54
only discovered in 1930 this means that
6:58
the inhabitants of this site somehow
7:00
already knew a great deal of astronomy
7:02
even at that ancient time regarding
7:05
objects that Giants might have built
7:07
scholars also include the Egyptian
7:10
sphinx the English stonehenge these
7:12
stone figures of Easter Island and the
7:15
Tibetan city of the gods not only are
7:18
these structures themselves amazing but
7:20
also their geometrical connection with
7:22
each other for example a line drawn from
7:25
the Tibetan city of gods - the Egyptian
7:27
sphinx if continued leads directly to
7:30
Easter Island and another line from the
7:33
city of gods through the Mexican
7:35
pyramids also goes to Easter Island
7:38
these two lines delineate 1/4 of the
7:41
Earth's surface and a line drawn from
7:43
the city of the gods -
7:45
Stonehenge divides this quarter exactly
7:47
in half and what about modern people who
7:50
are Giants one view is that be life and
7:53
then disappearance of these Giants is
7:55
related to some cosmic Cataclysm there
7:59
is evidence that hundreds of millions of
8:01
years ago a huge asteroid approached our
8:03
planet and the dimensions of this
8:05
asteroid exceeded those of our
8:07
present-day moon it's postulated that it
8:10
became a satellite of the earth and
8:12
because of this the gravity in our
8:14
planet was significantly weakened it was
8:17
then that the Giants appeared and
8:19
developed a fairly advanced civilization
8:22
hundreds of thousands or even millions
8:24
of years later
8:26
this satellite descended from its orbit
8:28
and disintegrated its debris z' falling
8:30
to the earth survivors of the disaster
8:32
through mutation and adaptation
8:35
decreased in size as the gravity on the
8:38
planet had suddenly increased
8:39
dramatically in addition the ozone layer
8:42
of the atmosphere decreased Sevenfold
8:45
increasing the negative impact of solar
8:47
radiation now a smaller body meant less
8:51
total surface area and thus a lesser
8:53
exposure to the sun's radiative effects
8:56
some researchers have ascertained that
8:59
before the catastrophe the Earth's
9:01
atmosphere contained one-and-a-half
9:03
times as much oxygen as now large
9:07
animals thrive with more oxygen and this
9:09
helps explain the fossil record of all
9:11
the giant animals and plants
9:13
characteristic of that time which
9:15
obviously would also be beneficial to
9:18
giant humanoids after the disaster the
9:21
size of the Giants gradually decreased
9:23
according to some well-known
9:25
anthropologists such as Christopher
9:27
Baume and Franz Weinreich before the
9:30
explosion and fall of the satellite
9:32
asteroid the asuras inhabitants of the
9:35
legendary continent of
9:37
Moorea reached a height of 50 meters or
9:39
165 a stroppy the continent divided and
9:45
the once United race of giants were now
9:47
isolated from each other
9:49
these successors of the acerous were 18
9:52
meters tall that's about 60 feet and
9:55
their successors 6 meters or about 20
9:58
feet tall as a result of these new
10:01
environmental conditions in the world
10:03
the Giants in many areas died out but in
10:06
some areas they managed to survive at
10:08
least until the 16th century of course
10:11
such a theory runs counter to the
10:13
teachings of Darwin but it is this
10:16
theory that most plausibly explains the
10:18
existence of the Giants what do you
10:21
think let's discuss this fascinating
10:24
topic in the comments under the video
10:26
thank you kindly for your attention and
10:28
see you again soon my dear subscribers
10:31
and viewers
Dipublikasikan tanggal 4 Okt 2017


29 Mei 2019

Asal-usul Pekalongan


https://youtu.be/yO-99uF7_7g
Amroxs

9 Jun 2018

Amroxs

Sajak Pangkur
Mingkar mingkuring angkoro
_Mrih tan kemba, kembenganing pambudi
-Mangka nadyan tuwa —pikun
Yen tan mikani rasa,
yekti sepi asepa lir sepah, samun,
Samangsane pasamuan
–Gonyak ganyuk nglilingsemi.
Kemarin kami sibuk saling menatap, sehingga kami tak sanggup memaknai setiap panah bahasa yang meluncur, menujam rasa
Dan kini, Otakku seperti terkunci oleh kenyataan, jika hidup tak ubahnya seperti air, kadang seperti hujan berhamburan, kadang seperti ombak menghentak, dan kadang seperti sungai, mengalirlah arus takdir dan didalamnya ikan-ikan mimpi menari²
Tapi, kita hanyalah buih kecil di dalam luasnya lautan semesta, yang terlalu mesra bertegur sapa dengan bayangan sendiri
Oh
Kemarin kami bersombong diri merumuskan sejumlah pengetahuan sehingga terbentang jarak 'tuk menyelipkan sekelumit makna kalimat cinta.
Sebab pun kita berasal dari mata air yang berbeda dan pernah disatukan dalam sebuah danau kemesraan,
Dimana yang berbeda dapat saling menyamakan persepsi, berinteraksi,
Adalah danau, tempat saling bersinggungan merajut sulur merah benang-benang mimpi yang berserakan
Tanpa disadari ternyata dari situlah spora-sepora cinta berawal,
Mangkono ngelmu kang nyata,
Sanyatane, mung weh reseping a-ti,
Bungah ingaran -- cubluk,
Sukeng tyas yen denina,
Nora  kaya si punggung anggung gumrunggung
Ugungan sadina dina
Aja mangkono wong urip.
2/
Dan sajak ini lahir
seiring rerepih air hujan yang berhamburan seperti bertih-bertih  beras di tabur ke langit.
Ketika, angin pelan meraba muka
dan otakku terbang ke rawa-rawa masa lalu
Gerimis semakin remah seperti jarum baja berserak, keras menghentak
Dan mataku seperti remang-remang melihat lajunya arus waktu pada sebuah musikalisasi abadi
Menyaksikan kaki kaki yang berlarian, kesana kemari
Mencari lautnya sendiri-sendiri, menempuh terjal jalan
Dengan slogan dan poster, tema yang berbeda.
Mereka berlari, mengitari takzimnya diri sendiri
Sesuai munajat makna, di laut selalu ada ikan-ikan,
Dalam hidup selalu ada harapan
Kaki kaki yang terengah engah menuju kesana, ke pusat cahaya harapan-nya
Di situlah sesungguhnya permasalahan baru dimulai
Seperti Sekawanan singa di savana luas, mereka memburu kijang-kijang
Kala itu seperti ada yang belum bernama, terdorong keluar dari labirin gelap, mengambil bekal, melanjutkan langkah menuju senja yang lebih gelap
Oh
Kemarin kita semua terpenjara oleh satu dimensi kepentingan sehingga terlalu bodoh untuk menyingkap ruh tuhan yang bersemayam dibalik baju-baju kebesaran
Tapi aku faham jika mereka tidak mengambil apa-apa dari kami
Dan kami tidak kehilangan apa apa selain rasa cinta dan kebanggaan
Sebab, memang dalam lingkaran itu tak ada apa apa buat kaki kaki yang mengejar matahari
Karena permasalahan tumbuh di persemaian hatinya sendiri  dan rasa cinta hanya butuh  sikap.
Sebab keniscayaan akan melahirkan anak anak masalah baru.
Kikisane mung sapala,
Palayune ngendelken yayah wibi,
Bangkit tur bangsaning---- luhur,
Lha iya ingkang rama,
Balik sira sarawungan bae durung
Mring atining tata krama,
Nggon anggon agama suci.
Ya
Aku tulis sajak ini saat rerepih air hujan seperti bertih-bertih  beras berhamburan dari langit yang berlubang
Tak ada burung tak ada kebebasan di langit
Karena diantara kita telah terikat tali
Tetapi aku melihat, bersama hujan ada bait bait puisi yang jatuh turut, yang bermukim dalam tebalnya kerinduan yang kadang semesta pun meyanyikan untuk mahluk-mahluk bumi,
Kerinduan yang tumpah ruah, multi dimensi,
Bertih-bertih air jatuh di udik, seperti sekumpulan rindu yang pulang ke pada masa lalu
hujan berciuman dengan pacar masa lalunya,
Berciuman dengan bumi, dan aku menamainya sebagai reuni semesta.
Ya.... dan kita adalah air.
Ada kalanya menjadi lautan.
Adakalanya menjadi sungai.
Adakalanya menjadi hujan
Sebab kerinduan adalah bertih-bertih kecil dari besarnya permasalahan yang tengah berlangsung di jagad raya ini.
Berserak maju menuju ke khakekat semula.
Ini kali kita seperti menjadi hujan didalam hutan kemesraan, sebagai elemen kerinduan dari semesta raya.
Kita adalah cahaya-cahaya ilahi yang bertebaran memenuhi tiap detik yang lepas dari rangkaian detak semesta.
Bertih-bertih air jatuh di udik, pulang kepada prosesi besar yang selalu ditunggu oleh setiap jengkal masa yang di tumbuhi kenangan.
Malaikat malaikatpun berputar mennyanyikan puja puji membentuk lingkaran
Innalilah wa Inna illah. Kepadanya kita berasal dan kepadanya kerinduan itu pulang.
Ya salam, ya Rahmat, ya barokah wahai jiwa-jiwa yang tengah berdamai dengan cinta dan mesra menyulam bunga
Ini reuni semesta
Maka jadilah emgkau kata-kata yang kelak mendiami lubang kenangan yang tengah kita bangunkan dari tidurnya.


Diasporasi

Aku menemukan setitik air yang berhadapan dengan waktu, lalu
Menguap entah kemana
Seperti hidup
Menara kebesaran yang tertinggi, menggapai langit, tapi  sia-sia, hanya menguap, hilang, entah kemana
La tunziro qauman ma unziro aabaahum fahum qhofilun.
Laqod holaqqul koulu 'aalla aktsarihim fahum laa yu'kminuun
Semua yang kita sangka milik kita, nyatanya hanya sebuah titipan
Harta benda, Rumah, anak-anak, semua hanya titipan
Lalu, mengapa semua di titipkan padaku?
Mengapa??!
Dan untuk apa dia menitipkan kepadaku?
Untuk apa??!
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan dengan apa yang bukan milikku itu!!
Sebab yang terjadi kemudian, Kenapa justru berat terasa ketika titipan itu diambil oleh yang punya-Nya
Terkadang aku sebut MUSIBAH
terkadang aku sebut UJIAN
terkadang aku sebut MALAPETAKA
aku sebut apa saja.....
AKu sebut apa saja supaya jelas bahwa itu adalah penderitaan !!!
Qoluu thoo'irukum maakima ini dzukkirtum, bal atum qoumum muslimin
Aku selalu meminta titipan yang singkron dengan kebutuhan duniawiku
Aku ingin kaya harta
Ingin punya Rumah,
Ingin punya mobil,
Ingin popularitas
Dan aku berdoa tolak bala, agar disingkirkan dari Sakit
Dari kemiskinan
Dari segenap derita, yang seolah menjelma hukuman sadis itu.... !!!
Bahkan aku kecewa jika keadilan, kasih sayang-Nya tak berjalan seperti ilmu hitung, tak sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Sebab aku rajin beribadah, sudah selayaknya semua derita menjauh, dan berkah kenikmatan sudah pasti menghampiriku.
Oh..... Betapa canggungnya aku dengan kepicikan kapitalisme, dalam menafsir tuhan yang seolah sebagai mitra dagang
Menghitung untung rugi
Mengkalkulasi, lalu menyuruh-nyuruh agar "tuhan" membalas kebaikanku
Menyuruh-nyuruh agar membatalkan segala rencananya yang tak sesuai keinginanku
.....oh
Maafkan kekerdilanku tuhan
Inni idzal laila dolaalim mubin......
Itabiku'uu man laa yas alukum ajrow wa hum mutaduun
Wa maa liya laa a buddulazi fathoronii wa illaihi turjauun
Tak siang, tak malam aku memanjatkan doa,
Aku malu
Aku tidak ingat jika setiap hari dalam doaku intinya aku selalu berserah, seluruh hidup dan mati ku hanyalah untukmu.
Maafkan aku wahai Tuhan
Dan ajarkanlah kepada kami, supaya menjadi pribadi yang bisa bersyukur dalam keadaan apapun
Menjadi bijaksana menuruti apa saja atas kehendakMu
Karena sudah pasti, jika kehendakmu itu yang terbaik bagiku
Ajari kami merengkuh syukur atas segala kehendakmu dan menjadikan semua derita sebagai anugrah
Aku tidak akan minta supaya kaya, karena aku tahu dan amat mengetahui bahwah hidup itu sendiri adalah kekayaan
Dan maafkanlah jika terkadang hati terasa berat untuk memberi padahal hamba tahu dan teramat tahu jika semua yang ku miliki adalah pemberianmu.
Aku tidak akan lagi meminta untuk menjadi yang terhebat, yang terkuat, sebab dalam kelemahan Engkau sering memberikan kekuatan
Aku tidak takut dengan untung rugi, aku tidak takut!!!!
Sebab anugrahmu adalah keuntungan bagi ku
Subbhanaal ladzi kholaqol azwaaja kullahaa mimmaa tunbitul ardlu wa min anfusihhim wa mimmaa laa ya'lamuun
Betapa dengan mengenakan baju syukur itu,  alangkah nikmatnya hidup ini.....
Bukan karena hari ini indah kita bahagia.
Tetapi karena kita bahagia maka hari ini menjadi indah.
Bukan tanpa rintangan lalu kita optimis, tetapi dengan optimis maka setiap rintangan akan menjadi tak terasa.
Bukan pun dikarenakan mudah untuk mengerjakan lalu kita yakin bisa mengerjakannya,
Tapi justru karena kita yakin bisa, maka semua menjadi mudah dikerjakan.
Bukan karena semua orang baik lalu kita tersenyum, tapi dengan kita tersenyum insyaallah semua orang akan menjadi baik.
Marilah memulai segala sesuatu dari diri kita saja sebagai titik Nol-nya
Tidak akan pernah ada hari yang menyulitkan kita, tidak ada,
kecuali diri kita sendiri yang membikin sulit.
Bila kita belum mampu menjadi jalan besar, cukup lah jadi jalan setapak yang penting bisa dilalui orang.
Bila kita belum mampu bersinar seterang matahari, menjadi lentera pun cukup bisa menerangi sekelilingnya
Jika kita belum bisa berbuat sesuatu untuk seseorang, maka berdoalah untuk kebaikannya.
Ayyaquula lahuu Kun fayakun....!!!
Fasubhannallldzi biyyadihii malakauutukili syai'in wa illaihi turja'uun....

5 Mei 2018

29 Mei 2018

Pangkur



Sajak Pangkur



Mingkar mingkuring angkoro

_Mrih tan kemba, kembenganing pambudi

-Mangka nadyan tuwa —pikun

Yen tan mikani rasa,

yekti sepi asepa lir sepah, samun,

Samangsane pasamuan

–Gonyak ganyuk nglilingsemi.

Kemarin kami sibuk saling menatap, sehingga kami tak sanggup memaknai setiap panah bahasa yang meluncur, menujam rasa

Dan kini, Otakku seperti terkunci oleh kenyataan, jika hidup tak ubahnya seperti air, kadang seperti hujan berhamburan, kadang seperti ombak menghentak, dan kadang seperti sungai, mengalirlah arus takdir dan didalamnya ikan-ikan mimpi menari²
Tapi, kita hanyalah buih kecil di dalam luasnya lautan semesta, yang terlalu mesra bertegur sapa dengan bayangan sendiri

Oh

Kemarin kami bersombong diri merumuskan sejumlah pengetahuan sehingga terbentang jarak 'tuk menyelipkan sekelumit makna kalimat cinta.

Sebab pun kita berasal dari mata air yang berbeda dan pernah disatukan dalam sebuah danau kemesraan,
Dimana yang berbeda dapat saling menyamakan persepsi, berinteraksi,
Adalah danau, tempat saling bersinggungan merajut sulur merah benang-benang mimpi yang berserakan
Tanpa disadari ternyata dari situlah spora-sepora cinta berawal,

Mangkono ngelmu kang nyata,

Sanyatane, mung weh reseping a-ti,

Bungah ingaran -- cubluk,

Sukeng tyas yen denina,

Nora  kaya si punggung anggung gumrunggung

Ugungan sadina dina

Aja mangkono wong urip.


2/
Dan Aku tulis sajak ini
saat rerepih air hujan seperti bertih-bertih  beras berhamburan dari langit.
Ketika, angin pelan meraba mukaku
dan otakku terbang ke rawa-rawa masa lalu
Gerimis semakin remah seperti jarum baja berserak, keras menghentak
Dan mataku seperti remang-remang melihat lajunya arus waktu pada sebuah musikalisasi abadi

Aku menyaksikan kaki kaki berlarian kesana kemari
Mencari lautnya sendiri-sendiri, menempuh jalannya sendiri,
Dengan poster dan tema-tema yang berbeda.
Berlari, mengitari takzimnya diri sendiri

Dan sesuai munajat makna, jika di laut selalu ada ikan-ikan, maka dalam hidup pun selalu ada harapan
Dan Kaki kaki itu terengah engah menuju kesana, menuju kemana-mana
Menuju kepada permasalahan yang sebenarnya,

Lalu Seperti Sekawanan singa di savana luas, mereka memburu kijang-kijang
Kala itu aku melihat seperti ada yang belum bernama, terdorong keluar dari labirin kepala, satu persatu mengambil bekal dan melanjutkan langkah menuju senja

Oh

Kemarin kita semua terpenjara oleh satu dimensi kepentingan sehingga terlalu bodoh untuk menyingkap ruh tuhan yang bersemayam dibalik baju-baju kebesaran

Tapi aku faham jika mereka tidak mengambil apa-apa dari kami
Dan kami tidak kehilangan apa apa selain rasa cinta dan kebanggaan
Sebab, memang dalam lingkaran itu tak ada apa apa buat kaki kaki yang mengejar matahari
Karena permasalahan tumbuh di persemaian hatinya sendiri  dan rasa cinta hanya butuh  sikap.
Sebab keniscayaan akan melahirkan anak anak masalah baru.

Kikisane mung sapala,

Palayune ngendelken yayah wibi,

Bangkit tur bangsaning---- luhur,

Lha iya ingkang rama,

Balik sira sarawungan bae durung

Mring atining tata krama,

Nggon anggon agama suci.

Ya

Aku tulis sajak ini saat rerepih air hujan seperti bertih-bertih  beras berhamburan dari langit yang berlubang
Tak ada burung tak ada kebebasan di langit
Karena diantara kita telah terikat tali

Tetapi aku melihat, bersama hujan ada bait bait puisi yang jatuh turut, yang bermukim dalam tebalnya kerinduan yang kadang semesta pun meyanyikan untuk mahluk-mahluk bumi,
Kerinduan yang tumpah ruah, multi dimensi,
Bertih-bertih air jatuh di udik, seperti sekumpulan rindu yang pulang ke pada masa lalu

hujan berciuman dengan pacar masa lalunya,
Berciuman dengan bumi, dan aku menamainya sebagai reuni semesta.

 Ya.... dan kita adalah air.
Ada kalanya menjadi lautan.
Adakalanya menjadi sungai.
Adakalanya menjadi hujan
Sebab kerinduan adalah bertih-bertih kecil dari besarnya permasalahan yang tengah berlangsung di jagad raya ini.
Berserak maju menuju ke khakekat semula.

Ini kali kita seperti menjadi hujan didalam hutan kemesraan, sebagai elemen kerinduan dari semesta raya.
Kita adalah cahaya-cahaya ilahi yang bertebaran memenuhi tiap detik yang lepas dari rangkaian detak semesta.

 Bertih-bertih air jatuh di udik, pulang kepada prosesi besar yang selalu ditunggu oleh setiap jengkal masa yang di tumbuhi kenangan.
Malaikat malaikatpun berputar mennyanyikan puja puji membentuk lingkaran
Innalilah wa Inna illah. Kepadanya kita berasal dan kepadanya kerinduan itu pulang.

Ya salam, ya Rahmat, ya barokah wahai jiwa-jiwa yang tengah berdamai dengan cinta dan mesra menyulam bunga
Ini reuni semesta
Maka jadilah emgkau kata-kata yang kelak mendiami lubang kenangan yang tengah kita bangunkan dari tidurnya.




Amroxs  (dieffebacia).  dieffebacia

25 Des 2017

Menuju Kepuncak

1/

Aku ingin bertanya padamu

Kaukah, anak gelombang itu?

yang pernah mengguncang perahu Nuh dengan sejidar pelangi, saat badai menerjang

Dan, dari tepi pagi yang kuning aku ingin mengenalmu

Kala seekor Elang merayap, seperti kura-kura di luasnya langit tanpa tepi

Dan mencoba aku kabarkan padamu dimana, adanya sungai-sungai, jalan menanjak, dan bebatuan, yang menuju bukit, dan puncak kemenangan itu

Begitu mendung mengejar, sulur-sulur petir seperti mencari mangsa

Semua harapan semu -- nampak dari kejauhan, semu, sepanjang musim yang mungkin luput dari pengamatanmu.

Aku ingin bertanya, apakah kau terlambat menghampiri jendela, memandang dari kejauhan, betapa kapal kita mulai tua oleh cerita,

2/

Bangkitlah kekasih, sebelum kuceritakan luka padamu, kini tak ada lagi api menyala

Sebab, api yang kau bawa telah habis sebelum musim dingin datang

Apakah kau?

 Anak gelombang itu,

Yang dilengan resahnya mengalir ribuan cabang sungai -- ikan-ikan seperti harapn yang hidup, lalu menari dengan sempurna.

https://youtu.be/qVm8Dkv_EwI

3/

Pada semua tugu, dan dingin, angin, dan sunyi yang melambai,

Aku mencoba memangilmu, seakan telah hafal caraku melafalkan nama kekasih,

Tetapi, itu jika kamu punya daya 'tuk mengingatnya, karena dalam ingatan terdalam ia akan hidup kekal

(Setiap melintas rawa, binatang-binatang rawa menyulam canda
bersautan berdendang hingga musim merambat mengikuti pada langkahmu yang berat.)

Ah..., aku tahu

Setiap jendela seperti kehilangan lilin, tak ada nyala, atau terang, atau harapan

Tapi aku yakin, kau pasti datang, menyuluh terang, lalu menembangkan lirih -- lagu-lagu merdu

Dan nafasku seperti menderu, menantang
dan, bersama malam sunyi,

Maaf jika kini aku paksa-paksakan, tuk menanti, untuk menguras harta yang di kandung sepi itu

Seperti pagi, akhirnya aku pun dibutakan oleh terang

Tak berarti riak dan ombak tiada lagi akan garang.

Sebab dilenganku aku menguasai musim.

4/

Senja menggigit langit sepanjang Cipayung

Merah seperti luka dengan ujung yang menujam, kelam, dan hampir usai

Belum lagi gerimis mencumbu, meretas, memakan sebagian jalanan, dari siang yang lebih panjang dari jarak pandang.



Aku terjebak dalam angka 31

Dimakan dingin, udara lembah yang turun perlahan

Dan kerlap kerlip kecil, lampu, dari kejauhan menemukan persembunyianku

Kerlap-kerlip penampakan sebuah kota yang hilang

Dan, sekejap kemudian kota itu nampak seperti hendak meledak, pekak, berserakan suara pecah

Seperti seremonial gereja ortodok, yang pecahkan di telinga


Besoknya angka baru menyergap, merayap, dalam tidur

Dalam mimpi, seperti wajah bayi

Kerinduanku terhenti ketika melihat sepasang sendal muda mudi

Sebuah terompet tergeletak terbungkus secarik catatan yang belum usai


5 Nov 2017

Editorial, gambar

Amroxs








4 Sep 2017

Green village

Amroxs
Saya pikir Anda akan menyukai cerita ini: " RahwanaYana oleh AradeaRofixs di Wattpad 

http://my.w.tt/UiNb/Go4Ik2WndG




16 Agu 2017

Sajak beranjak

Wanita dan Hujan

Dua tubuh yang berlindung di balik payung hitam ditengah derasnya hujan itu adalah satu.

Hujan yang mampir dimalam-malam kesepian adalah hujan yang entah ke berapa puluh kali semenjak tujuh bulan silam, dimana salah satu dari kedua tubuh itu termakan deras tetes-tetes kenangan, terdalam.

Dia, wanita itu seolah-olah melihat betapa setiap repih air hujan seperti turun hanya untuk memecah batu-batu kenangan.

Apalagi jika hujan itu malam malam. Diambilnya, mantel, payung, dan digendongnya sekarung cerita tentang lelaki yang kini tersimpan namanya dan seperti membeku dilemari es, hatinya.

Lalu ia berlayar dilautan masa lalu, memetik bunga-bunga tawa, menanak kemesraan, membayangkan yang saat itu selalu di bayangkan, yakni hidup damai dalam satu ikatan yang disebut keluarga.

Menjalani hari-hari indah dalam canda dan tawa, ada anak, dan ada kedamaian dalam Rumah kecil berhalaman hijau penuh bunga-bunga bermekaran.

Sejenak malam lumpuh dan air hujan seperti di Setop berhenti, saat bayangannya menubruk pada batu keras yang disebut rintangan.

Matanya melihat tiap repih air yang menetes seperti tangis yang bengis, yang sering menghampiri jika harus memandang kenyataan, bahwa hubungan yang tak direstui itu pasti akan berakhir dengan kesedihan.

Tapi itu hanya sebuah lukisan hitam yang selalu keluar setiap pintu bayangannya terbuka saat itu. tapi malam kelam serta air hujan telah memanggilnya, mengajaknya pergi jauh, jauh sekali, sebelum jalan terjal itu di lewatinya.

Lelaki itu telah menghadap kekuasaan takdir Tuhan ketika sebuah truk kontainer parkir di atas tubuhnya.

Dan, dua tubuh yang berlindung di balik payung hitam ditengah derasnya hujan itu adalah satu.
Karena didalam tubuhnya ada tubuh kecil yang bersembunyi dirahimnya.

Adalah kenangan terindah yang ditinggalkan lelakinya, yang sebagian orang mengatakan aib.

Memandang titik air hujan yang semakin lama seperti semakin bengis mengadilinya.
Matanya seperti menenteng pertanyaan tapi dia sendiri tak tahu bagaimana mewujudkan pertanyaannya itu kedalam kata-kata.

"Apakah dalam perutnya itu anugrah kenangan indah, ataukah aib hitam seperti hujan di malam itu."

Jakarta 16/8/2017

Diasporasi

Kalian adalah kalimat yang ingin aku ceritakan selayak dua sajak yang dipisahkan oleh hujan
Karena kibasan angin dari benua purba
Karena udara terbakar mimpi mimpi yang kurang rapi, Karenanya kalian terpenjara oleh satu ruang panjang yang bernama takdir

Kau adalah cerita yang mengapung di lautan ambigu kumpulan setiap tetes hujan yang meretas semalam, bendera, lembaran buku, dan beberapa helai harapan yang tertumpuk jadi satu.
Dan kau adalah puing-puing taska, serpihan gelap malam yang terbungkus hujan dan dipanggang oleh dingin dari tiap bayangan yang keluar dari sorot sinar harapan

Kalian adalah bayangan yang keluar dari lampu ambivalensi dari sebuah kalimat laknat yang diselimuti hujan semalam, asap pengap, keringat dingin, dan baju-baju lusuh yang pernah di kenakan oleh niat baik bersama

Kalian adalah puing-puing dari bangunan besar yang jika di satukan akan nampak seperti sebuah kota termegah
Kau melangkah mundur setapak seiring celoteh sebuah iklan di tv hitam putih yang selalu menyaksikan kita dengan lambaian kesesatan
Dan berhenti di sebuah kuil yang muali runtuh, sekelumit doa yang terpenjara didalamnya, serta sepotong roti dengan slay madu yang kadauarsa

Kalian adalah yang sengaja aku pisahkan dengan musim yang belum pernah di uraikan oleh dingin di awal tahun
Dengan harapan kelak akan disatukan kembali oleh langit yang disebut kenangan
Seperti matahari yang mencium laut oleh rasa lelahnya senja, bendera, lembaran buku, dan beberapa helai harapan yang tertumpuk jadi satu.

Kau adalah burung terbang yang di tinggikan rima sebuah gaung sebagai sajak kecil sehingga kuping akan kehilangan bunyi tak mendengarkan suara yang memantul mantul.
Dan, kau sepeeti dua sepeda motor yang lelah, menunggu datangnya tiap kejadian, parkir di halaman hatiku

Kami adalah bumi tempat kau kembali memijakkan kaki pada kacamata, pada dua bayangan yang hampir menjadi kenyataan

"Percayalah padaku rumahmu itu kenyataan,"
Dan mimpi itu hanya jalan kecil tempat rindu mengembara yang mungkin harus segera di lupakan ketika matahari berterang sinar

Kau adalah asam nun di pucuk gunung dengan keterjalan mimpi untuk manusia biasa
Sedang kau adalah garam yang telah di asinkan oleh masalalu
Dan kalian tengah terbuai mendengarkan sebuah lagu dari diaspora yang di nyanyikan oleh panggung sandiwara di pasar malam kemarin sore
Atau jika kelak kesadaran menghampiri rumahmu, dimana di sebuah Periuk yang bernama kepentingan kita akan bertemu lebur dalam kenangan untuk besok

Pekalongan 3/8/17

Yang Hidup dalam Secangkir Kopi

Dan, aku hirup udara, secangkir
Menyembul, dari kopi

Aku untit kemana asap hidup
Mengepul dari cangkir

Air yang membingkai sepi, yang tersekat, dalam

Kubangan. Secangkir sepi yang berusaha keluar, mencari lubang

Malam merembas, basah, semua
Meresap lamunan ke sekeliling, waktu mengalir,
Samar, seperti suara guruh, entah menandai kedatangan atau kepergian

Malam hitam itu seperti tanggul-tanggul yang kemarin
Jebol, seperti kenangan yang menyembul dari kopi
Secangkir gelisah buatanmu,

Asap hidup yang bertanya, "kemana air berlanjut
Sejarah seperti berdiri sendiri, tak sengaja
Seperti sekawanan gagak yang terbang mengutip kematian dari kantung lama,

Seperti langkah pulang
Seperti berkumpul dalam lautan
Berdansa di nyanyian ikan-ikan

Ikan-ikan yang mengirimkan mantra turun hujan, kelangit
Seketika riuh ruh-ruh memanjat, naik Sepanjang musim, terus saja berulang

Dan, hujan datang, lagi
Dan, aku seperti menggeser gelas lama, dalam kenangan,
Kesamping

Dan aku tahu. Kemana air asap kopi
Hidup, bersama beratus matra
Menjadi lingkaran
Mengalir ke tangga langit, turun ke ceruk bumi

Seperti menangkap angin, tangan menepuk sendiri
Hanya satu yang di raba, dan yang sejuta lepas kemana
Satu, ketika angan mengenang, maka terlintas jutaan jejak purba

Jalan itu sering disebut hutan, tercipta dari beratus gaung dan rima, sebuah sajak yang di tabuh dengan berjuta irama

Yang melodinya terkadang buntu oleh, hidup, asap, kopi
Dan, lainnya berkata, "itu tak mudah"
Sebab harus melawan arus

Atau, menjadi lubang dan mendiami, labirin keabadian

Kemana asap, itulah air, yang kau tunjuk arti alirannya, adalah hidup
Dan menyembul, terhirup dari secangkir kopi, udara masa lampau

Dan sampai ke satu laut, seperti di tuntun
Melewati sungai-sungai, menyusur kenangan lama

Untaian untaian sajak nan lembut, menyampaikan-nya
Segala asap yang aku lepaskan dari tubuh, berkabut
Satu persatu, kopi di tubuhku kau sruput.....

Jakarta 2014

Senja di Kaki Gunung Cermai

1/
Aku mengendus langit, berjalan menyusuri warna senja siluwet
Semua lanskap yang tak mudah ditegakkan dengan mimpi
Aku seperti lebih tersembunyi
Untuk menjelaskan rindu yang remuk itu— dengan untaian doa

Seperti petir, akupun kehilangan hujan, menantimu sendiri
Melewati babak baru
Dan, senja melepaskan panah, hingga mengenai jantungku

Senja dikaki gunung cermai
Satu-satu ku gedor pintu-pintu yang sedianya tertutup
Malam diam, dan angin enggan menguraikan nafasku

Senja seperti makin jauh, dan sepertinya tak pantas aku merindukan wajah beningMu
Tapi, untuk lari darimu-pun aku tak kuasa

Apakah di langit bisa aku sembunyikan semuanya?
Sementara, senja yang mengepung ci-limus berupa kepingan dingin
Adalah nyanyian kecil dari jiwa kecil, yang akan segera membeku
Atau akan menjadi luka yang teramat besar untuk disembuhkan

Ini tiada sepotongpun hari, atau berpotong-potong masa dapat aku bawa dalam kantung kenangan
Terkubur disini. Dalam dingin yang tiada lagi ada yang akan tumbuh,
Lalu apalagi yang aku tunggu, semua telah tumpah bersama gerimis— yang tiba-tiba saja menimpa bait ini

Senja ini sembunyi di kaki gunung cermai
Aku halagi tubuhku dengan sajak tanpa sehelai daya
Apakah ada hari baik, atau hari paling indah, jika ingin itu adalah kematian?

Aku resah

Dan, malamnya rembulan hilang
Ia seperti disembunyikan, entah oleh siapa?
Sehingga aku tak pernah bisa pastikan, "apakah ini adalah awal, saat aku tebang pohon-pohon
Sebab ranting-ranting adalah tak ubahnya permasalahan
Yang akan segera tumbuh kembali
Seandainya esok itu hari ada
Kau akan melihat sesuatu, yang baru, di situ

2/
Aku sama seperti rembulan
Selalu ingin melihatmu tersenyum
Senyum yang panjang sepagi sesepi, semata
Biarkan senja kelak kembali menukik, akan
Aku gantung sajak ini di bebatuan, di semak, di jurang, di ceruk
biar setiap hari menikam langit dan sampai kepadamu langsung ke kubus hati

Lampu-lampu yang miskin akan bertambah tak bersinar, apalagi jika tiap huruf ikut menghitung air mata, dalam kesekian kelam

3/
Mereka merekam...
kelelawar itu jelas merekam tiap gelap yang susuri berkerjap-kerjap
Mereka menimbun sunyi, mereka berkejaran dengan rima pada dinding,
Sajak ku
Mereka seperti sama-sama bertanya, "adakah terang datang esok hari?"
Mereka yang mencoba melihat tulang rusukku,
Mereka yang seperti melihat gundah

4/
Dari kejauhan langit di atas lingarjati masih merah, melingkar
Semua rumah telah di terangi lampu-lampu
Selamat malam jiwaku
Selamat bernyanyi di rimbun, sunyimu
Kita sebentar lagi akan berpagut semalam di sini
Tak ada purnama di dingin ini
Semua sepi
Semua jauh
Hanya doa yang aku seret mendekat.

Cilimus, 1998

Langit Dalam Sarung

Langit murung dibalik sarung kumalku malam ini

Banyak cerita yang gagal aku panen

Aku seperti menemukan sebuah luka dilubang lama dalam tubuhnya

Saat terlentang

Tentang cerita yang disekat oleh ceruk purba

Dengan kedalaman yang pernah dipikirkan Descartes.

Dunia seperti kura-kura, lamban terbungkus dingin, menjadi es

Daun usia satu dalam sebuah harapan yang belum jadi, berguguran

Malam ini rasanya terlalu banyak mimpi yang kehilangan selimut dalam sarung yang sempit

Dalam malam asin, cerita itu terasing disembunyikan lamunan, dalam sarung

Aku seperti gagal menyusuri tubuhnya, yang  telah
Disulap oleh bintang-bintang menjadi jengrik di sebuah kota,
Dengan suara nyaring yang terkalahkan oleh bising

Separuh halaman rumah hampir penuh,
luka-luka menjalar, seperti ular hitam beracun yang tengah menancapkan bisa

Mengenang hitam kala secangkir kopi menjabarkan pahit di kepala

Kepedihan yang tular-menular, seperti membangun kuil diatas timbunan pasir, dengan
Mimpi yang senantiasa bercengrama,

Dengan biru air laut, dan angin tak pasti arah hembusannya
 
Otakku tertusuk jarum kerinduan
Dari mimpi hitam yang tak pernah tua.

Meskipun rasa asin menuakanku dan menghidupkan semua kenangan
 
Rasanya belum pantas 'ku keucap harap, dan musim membujur sembunyi dibalik bantal

Padamu

Kepedihan telah menanak luka dimana kaudapati ruang dalam jiwaku.

Malam ini akhirnya aku tahu
Kepedihan itu hidup dalam sarung kumalku

Seperti baja baja beton dan cakar ayam yang menghunjam,
Atau hujan yang seperti logam runcing yang mendengung lepas dari langit

Kakiku masih memahami makna, melangkah

Menggambar angin
Dan berputar kembali kedalam ceruk dengan musim yang sama namun dalam situasi lain.

Dengan kebisingan yang batu
Aku berjalan pula pada gelap dan suram didalam sarung
 
 
Ku temukan kau di sini.

Dan tiada luka karenanya.

Setahuku jiwa itu raga yang panjang dan diatasnya ada arus musim silih berganti

Mereka yang pulang terluka menandai sakit dalam rasa.
 
Jkt.8