Aradea rofixs home

29 Mei 2018

Pangkur



Sajak Pangkur



Mingkar mingkuring angkoro

_Mrih tan kemba, kembenganing pambudi

-Mangka nadyan tuwa —pikun

Yen tan mikani rasa,

yekti sepi asepa lir sepah, samun,

Samangsane pasamuan

–Gonyak ganyuk nglilingsemi.

Kemarin kami sibuk saling menatap, sehingga kami tak sanggup memaknai setiap panah bahasa yang meluncur, menujam rasa

Dan kini, Otakku seperti terkunci oleh kenyataan, jika hidup tak ubahnya seperti air, kadang seperti hujan berhamburan, kadang seperti ombak menghentak, dan kadang seperti sungai, mengalirlah arus takdir dan didalamnya ikan-ikan mimpi menari²
Tapi, kita hanyalah buih kecil di dalam luasnya lautan semesta, yang terlalu mesra bertegur sapa dengan bayangan sendiri

Oh

Kemarin kami bersombong diri merumuskan sejumlah pengetahuan sehingga terbentang jarak 'tuk menyelipkan sekelumit makna kalimat cinta.

Sebab pun kita berasal dari mata air yang berbeda dan pernah disatukan dalam sebuah danau kemesraan,
Dimana yang berbeda dapat saling menyamakan persepsi, berinteraksi,
Adalah danau, tempat saling bersinggungan merajut sulur merah benang-benang mimpi yang berserakan
Tanpa disadari ternyata dari situlah spora-sepora cinta berawal,

Mangkono ngelmu kang nyata,

Sanyatane, mung weh reseping a-ti,

Bungah ingaran -- cubluk,

Sukeng tyas yen denina,

Nora  kaya si punggung anggung gumrunggung

Ugungan sadina dina

Aja mangkono wong urip.


2/
Dan Aku tulis sajak ini
saat rerepih air hujan seperti bertih-bertih  beras berhamburan dari langit.
Ketika, angin pelan meraba mukaku
dan otakku terbang ke rawa-rawa masa lalu
Gerimis semakin remah seperti jarum baja berserak, keras menghentak
Dan mataku seperti remang-remang melihat lajunya arus waktu pada sebuah musikalisasi abadi

Aku menyaksikan kaki kaki berlarian kesana kemari
Mencari lautnya sendiri-sendiri, menempuh jalannya sendiri,
Dengan poster dan tema-tema yang berbeda.
Berlari, mengitari takzimnya diri sendiri

Dan sesuai munajat makna, jika di laut selalu ada ikan-ikan, maka dalam hidup pun selalu ada harapan
Dan Kaki kaki itu terengah engah menuju kesana, menuju kemana-mana
Menuju kepada permasalahan yang sebenarnya,

Lalu Seperti Sekawanan singa di savana luas, mereka memburu kijang-kijang
Kala itu aku melihat seperti ada yang belum bernama, terdorong keluar dari labirin kepala, satu persatu mengambil bekal dan melanjutkan langkah menuju senja

Oh

Kemarin kita semua terpenjara oleh satu dimensi kepentingan sehingga terlalu bodoh untuk menyingkap ruh tuhan yang bersemayam dibalik baju-baju kebesaran

Tapi aku faham jika mereka tidak mengambil apa-apa dari kami
Dan kami tidak kehilangan apa apa selain rasa cinta dan kebanggaan
Sebab, memang dalam lingkaran itu tak ada apa apa buat kaki kaki yang mengejar matahari
Karena permasalahan tumbuh di persemaian hatinya sendiri  dan rasa cinta hanya butuh  sikap.
Sebab keniscayaan akan melahirkan anak anak masalah baru.

Kikisane mung sapala,

Palayune ngendelken yayah wibi,

Bangkit tur bangsaning---- luhur,

Lha iya ingkang rama,

Balik sira sarawungan bae durung

Mring atining tata krama,

Nggon anggon agama suci.

Ya

Aku tulis sajak ini saat rerepih air hujan seperti bertih-bertih  beras berhamburan dari langit yang berlubang
Tak ada burung tak ada kebebasan di langit
Karena diantara kita telah terikat tali

Tetapi aku melihat, bersama hujan ada bait bait puisi yang jatuh turut, yang bermukim dalam tebalnya kerinduan yang kadang semesta pun meyanyikan untuk mahluk-mahluk bumi,
Kerinduan yang tumpah ruah, multi dimensi,
Bertih-bertih air jatuh di udik, seperti sekumpulan rindu yang pulang ke pada masa lalu

hujan berciuman dengan pacar masa lalunya,
Berciuman dengan bumi, dan aku menamainya sebagai reuni semesta.

 Ya.... dan kita adalah air.
Ada kalanya menjadi lautan.
Adakalanya menjadi sungai.
Adakalanya menjadi hujan
Sebab kerinduan adalah bertih-bertih kecil dari besarnya permasalahan yang tengah berlangsung di jagad raya ini.
Berserak maju menuju ke khakekat semula.

Ini kali kita seperti menjadi hujan didalam hutan kemesraan, sebagai elemen kerinduan dari semesta raya.
Kita adalah cahaya-cahaya ilahi yang bertebaran memenuhi tiap detik yang lepas dari rangkaian detak semesta.

 Bertih-bertih air jatuh di udik, pulang kepada prosesi besar yang selalu ditunggu oleh setiap jengkal masa yang di tumbuhi kenangan.
Malaikat malaikatpun berputar mennyanyikan puja puji membentuk lingkaran
Innalilah wa Inna illah. Kepadanya kita berasal dan kepadanya kerinduan itu pulang.

Ya salam, ya Rahmat, ya barokah wahai jiwa-jiwa yang tengah berdamai dengan cinta dan mesra menyulam bunga
Ini reuni semesta
Maka jadilah emgkau kata-kata yang kelak mendiami lubang kenangan yang tengah kita bangunkan dari tidurnya.




Amroxs  (dieffebacia).  dieffebacia

25 Des 2017

Menuju Kepuncak

1/

Aku ingin bertanya padamu

Kaukah, anak gelombang itu?

yang pernah mengguncang perahu Nuh dengan sejidar pelangi, saat badai menerjang

Dan, dari tepi pagi yang kuning aku ingin mengenalmu

Kala seekor Elang merayap, seperti kura-kura di luasnya langit tanpa tepi

Dan mencoba aku kabarkan padamu dimana, adanya sungai-sungai, jalan menanjak, dan bebatuan, yang menuju bukit, dan puncak kemenangan itu

Begitu mendung mengejar, sulur-sulur petir seperti mencari mangsa

Semua harapan semu -- nampak dari kejauhan, semu, sepanjang musim yang mungkin luput dari pengamatanmu.

Aku ingin bertanya, apakah kau terlambat menghampiri jendela, memandang dari kejauhan, betapa kapal kita mulai tua oleh cerita,

2/

Bangkitlah kekasih, sebelum kuceritakan luka padamu, kini tak ada lagi api menyala

Sebab, api yang kau bawa telah habis sebelum musim dingin datang

Apakah kau?

 Anak gelombang itu,

Yang dilengan resahnya mengalir ribuan cabang sungai -- ikan-ikan seperti harapn yang hidup, lalu menari dengan sempurna.

https://youtu.be/qVm8Dkv_EwI

3/

Pada semua tugu, dan dingin, angin, dan sunyi yang melambai,

Aku mencoba memangilmu, seakan telah hafal caraku melafalkan nama kekasih,

Tetapi, itu jika kamu punya daya 'tuk mengingatnya, karena dalam ingatan terdalam ia akan hidup kekal

(Setiap melintas rawa, binatang-binatang rawa menyulam canda
bersautan berdendang hingga musim merambat mengikuti pada langkahmu yang berat.)

Ah..., aku tahu

Setiap jendela seperti kehilangan lilin, tak ada nyala, atau terang, atau harapan

Tapi aku yakin, kau pasti datang, menyuluh terang, lalu menembangkan lirih -- lagu-lagu merdu

Dan nafasku seperti menderu, menantang
dan, bersama malam sunyi,

Maaf jika kini aku paksa-paksakan, tuk menanti, untuk menguras harta yang di kandung sepi itu

Seperti pagi, akhirnya aku pun dibutakan oleh terang

Tak berarti riak dan ombak tiada lagi akan garang.

Sebab dilenganku aku menguasai musim.

4/

Senja menggigit langit sepanjang Cipayung

Merah seperti luka dengan ujung yang menujam, kelam, dan hampir usai

Belum lagi gerimis mencumbu, meretas, memakan sebagian jalanan, dari siang yang lebih panjang dari jarak pandang.



Aku terjebak dalam angka 31

Dimakan dingin, udara lembah yang turun perlahan

Dan kerlap kerlip kecil, lampu, dari kejauhan menemukan persembunyianku

Kerlap-kerlip penampakan sebuah kota yang hilang

Dan, sekejap kemudian kota itu nampak seperti hendak meledak, pekak, berserakan suara pecah

Seperti seremonial gereja ortodok, yang pecahkan di telinga


Besoknya angka baru menyergap, merayap, dalam tidur

Dalam mimpi, seperti wajah bayi

Kerinduanku terhenti ketika melihat sepasang sendal muda mudi

Sebuah terompet tergeletak terbungkus secarik catatan yang belum usai